Langsung ke konten utama

RUMAHKU


Rumah adalah taman impian para pengelana yang dilanda kerinduan

rindu akan menerangkannya arti kata pulang 

herannya.....

aku malah berduka kala bertandang di kota lahirku

kusempatkan waktu berkunjung ke rumah tua itu

tempat di mana lisan ini mengucapkan kata pertama para batita

terniang

tawa dan senyumku dahulu lepas bebas

pernah subur di rumah ini


Ranjang yang dahulu aku berbaring di atasnya

tak lagi nyaman

begitu juga Lantai yang menjaga kesucian telapak kaki

dan atap yang menjagaku dari hujan dan terik matahari

serta dinding yang menjagaku dari dingin

semuanya terasa beda

kau penawar rinduku

kaulah dermaga, di mana rinduku berlabuh

mereka bilang rumah identik dengan kata bahagia

maka kaulah pengejawantahan dari segala alasanku pulang

kaulah rumahku

untungnya kesedihan hanyalah musafir bertandang pada rentetan masa yang berbeda

meski rumahku t'lah tiada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARLOTA

    Karya: Fadly R. Mansjur Kupingmu yang liar dan penasaran Menempel erat pada dinding-dinding rahasia Kau buru aib orang lain Tapi enggan menghitung borok sendiri   Jelalat matamu diam mengintai Seakan berkedip kau anggap dosa   Lidah nan lentur Pandai bersilat dan menggempur Untaian kata-katamu menampik fakta Sepertinya bagimu sudah biasa   Kata-katamu bermata rantai petaka terangkai dalam bingkai dusta dan ghibah mampu menangkar setiap jiwa dari telinga-telinga yang mudah percaya begitu mudah kau hancurkan kehormatan orang lain                                                                    ...

Ibu

  karya: Fadly R. Mansjur Kutulis namamu di atas air hilang tak berbekas kutulis namamu di atas pasir hilang terhempas Kuteriaki namamu keras namun tiada sahut berbalas belum lama kau tiada dunia t’lah lupa Lalu kusemat namamu pada untaian doa yang tak bertepi semisal api unggun bagi para pendaki menyulut hingga pagi menjelma mentari di dadaku namamu tetap lestari.

Sebelum kau datang...

   Karya : Fadly R. Mansjur sebelum kau datang,… Mendung di langit dadaku berat terasa desah nafasku udara t’lah tercemar polusi cintanya kutelusuri Lorong waktu yang pengap dalam hari-hariku yang nampak gelap tergontai-gontai harap hati ini semua segera berlalu   sebelum kau datang,… kantung jiwa yang kosong menampung seribu luka buah kisah yang t’lah lalu yang kubawa melalang buana nalarku terjuntai di pucuk randu diterpa angin tak beraturan semisal musafir di perjalanan yang kehilangan perbekalan kupaksa tuk Melepas Langkah layu terhuyung-huyung menggenggam hati yang sendu Menapaki duri-duri ingatan sepanjang jalan kenangan terkitar-kitar di persimpangan yang sama aku hilang jalan terperosok di tengah lumpur cintanya salahku juga mengapa mesti terjerat pada senyumnya yang memburu mengapa mesti terjatuh pada peluknya yang membunuh sampai lupa pada hari depan yang lebih baik bodohnya aku rela merangkai kisah cinta yang...